"Langkah yang Tak Pernah Berhenti" #EPS.02
Namanya Arga. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, Arga sudah berdiri di pinggir jalan. Jaket tipisnya tak cukup menahan dingin, tapi ia sudah terbiasa. Di tangannya ada termos kecil berisi kopi yang ia buat sendiri—kopi paling murah, tapi cukup untuk membuatnya tetap terjaga. Ia bukan anak orang kaya. Ayahnya meninggal saat ia masih SMA, ibunya hanya penjual gorengan di depan gang kecil rumah mereka. Sejak itu, Arga tahu satu hal: hidup tak akan pernah mudah. Setelah lulus, ia tidak langsung kuliah. Ia bekerja. Apa saja. Pernah jadi kuli bangunan, pernah jadi pelayan warung makan, pernah juga ditolak berkali-kali saat melamar kerja di kantor-kantor besar. “Maaf, kami mencari yang berpengalaman.” Kalimat itu terlalu sering ia dengar. Tapi Arga tidak pernah benar-benar berhenti mencoba. Malam hari, setelah pulang kerja, ia belajar. Bukan di ruang kelas ber-AC, tapi di kamar sempit berdinding tipis. Ia belajar dari video gratis, membaca buku pinjaman, mencatat dengan lampu r...