"Langkah yang Tak Pernah Berhenti" #EPS.02

Namanya Arga.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, Arga sudah berdiri di pinggir jalan. Jaket tipisnya tak cukup menahan dingin, tapi ia sudah terbiasa. Di tangannya ada termos kecil berisi kopi yang ia buat sendiri—kopi paling murah, tapi cukup untuk membuatnya tetap terjaga.
Ia bukan anak orang kaya. Ayahnya meninggal saat ia masih SMA, ibunya hanya penjual gorengan di depan gang kecil rumah mereka. Sejak itu, Arga tahu satu hal: hidup tak akan pernah mudah.
Setelah lulus, ia tidak langsung kuliah. Ia bekerja. Apa saja. Pernah jadi kuli bangunan, pernah jadi pelayan warung makan, pernah juga ditolak berkali-kali saat melamar kerja di kantor-kantor besar.
“Maaf, kami mencari yang berpengalaman.”
Kalimat itu terlalu sering ia dengar.
Tapi Arga tidak pernah benar-benar berhenti mencoba.
Malam hari, setelah pulang kerja, ia belajar. Bukan di ruang kelas ber-AC, tapi di kamar sempit berdinding tipis. Ia belajar dari video gratis, membaca buku pinjaman, mencatat dengan lampu redup karena listrik harus dihemat.
Kadang lelahnya terasa sampai ke tulang.
Kadang ia bertanya dalam hati, “Apa semua ini akan ada hasilnya?”
Namun setiap kali melihat ibunya tertidur di kursi kayu setelah seharian berjualan, Arga tahu jawabannya.
Ia tidak boleh menyerah.
Suatu hari, kesempatan itu datang. Sebuah perusahaan kecil membuka lowongan admin. Syaratnya sederhana: teliti dan mau belajar. Arga melamar dengan sisa percaya diri yang ia punya.
Wawancara berjalan biasa saja. Tidak istimewa.
Seminggu kemudian, ia menerima telepon.
“Selamat, Anda diterima.”
Arga terdiam cukup lama sebelum menyadari bahwa itu nyata. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh tanpa izin.
Itu bukan pekerjaan bergaji besar. Bukan jabatan tinggi. Tapi itu adalah pintu.
Dan Arga tahu, setiap pintu yang terbuka adalah hasil dari ratusan langkah yang tak pernah ia hentikan.
Tahun demi tahun berlalu. Arga terus belajar, terus bekerja, terus memperbaiki diri. Perlahan, hidupnya berubah. Ia bisa membelikan ibunya kompor baru. Bisa memperbaiki atap rumah yang bocor. Bisa tersenyum tanpa rasa takut tentang hari esok.
Suatu malam, saat duduk sendiri, ia tersadar:
Perjuangan bukan tentang seberapa cepat kita sampai.
Perjuangan adalah tentang tetap berjalan, bahkan saat kaki terasa berat.
Karena hidup tidak selalu memberi jalan yang mudah.
Tapi hidup selalu memberi jalan bagi mereka yang tidak berhenti melangkah.
Dan Arga?
Ia hanyalah satu dari banyak orang biasa yang memilih untuk tidak menyerah.

Diketik oleh :@aldyoursreal__

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAY 3 ||"Mindfullness"

"Satu Tarikan Napas"(MINDFULLNESS) #EPS.03

#PART1 "MENTAL HEALTH SURVIVOR" [MatiasAldi]